29 Agustus 2008

Jelutung Rawa; Primadona Baru Penghasil Getah

Oleh: Marinus Kristiadi Harun, S.Hut*

Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai lahan rawa seluas 191.022 ha yang terdapat di Kabupaten Barito Kuala, Banjar dan tiga Kabupaten lainnya dengan luas masing-masing 93.365 ha, 49.267 ha dan 48.390 ha. Dari luas tersebut yang sudah dimanfaatkan baru mencapai 155.860 ha (81,59%) dari total luas potensi lahan rawa di Provinsi Kalimantan Selatan (Bakhri, 1993).

Besarnya luasan lahan rawa yang terlantar seperti tersebut di atas disebabkan oleh adanya hambatan internal lahan rawa berupa sifat fisika, kimia, biologi, tata air dan sosial ekonomi yang menghambat kegiatan budidaya tanaman. Sifat kimia lahan yang menghambat antara lain: kemasaman dan kesuburan tanah yang rendah (miskin hara). Sifat fisika yang menghambat adalah adanya penyusutan ketebalan (subsidence) dan kondisi fisik lahan. Faktor tata air yang menghambat adalah adanya variasi genangan. Kendala biologis berupa tingginya serangan hama dan penyakit serta infeksi gulma. Kendala sosial ekonomi di daerah rawa meliputi: (a) rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan petani, (b) terbatasnya tenaga dan modal petani yang menyebabkan timbulnya kesulitan dan lambannya adopsi teknologi baru. Kelembagaan agribisnis seperti penyediaan sarana produksi, pengolahan pasca panen, pemasaran hasil, sistem informasi dan penyuluhan serta aksesibilitas lokasi masih terbatas dan belum berkembang serta berfungsi secara baik.

Upaya memproduktifkan kembali lahan rawa terlantar dapat dilakukan melalui pembangunan hutan rakyat dengan teknik agroforestry berbasis jenis lokal (indigenous species) yang dilakukan secara partisipatif. Pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat memulihkan dan meningkatkan fungsi ekologi serta ekonomi lahan rawa di Provinsi Kalimantan Selatan.

Jelutung rawa (Dyera pollyphylla Miq. Steenis atau sinonim dengan D. lowii Hook F.) merupakan jenis pohon lokal (indigenous tree species) hutan rawa yang prospektif untuk dikembangkan pada hutan rakyat di lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimilikinya. Jelutung rawa mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa, pertumbuhannya relatif cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal. Tulisan ini membahas tentang prospek pengembangan hutan rakyat berbasis jenis jelutung untuk memproduktifkan kembali lahan rawa terlantar di Provinsi Kalimantan Selatan.

Potensi Jelutung untuk Hutan Rakyat di Lahan Rawa

Keberhasilan pembangunan hutan rakyat di lahan rawa salah satunya ditentukan oleh faktor pemilihan jenis yang tepat dari aspek ekonomi, sosial budaya dan ekologis. Pemilihan jelutung untuk hutan rakyat di lahan rawa didasari oleh alasan sebagai berikut.

Pertama, kemampuan beradaptasi pada lahan rawa telah teruji. Daya adaptasi yang baik pada lahan rawa merupakan syarat mutlak bagi suatu jenis pohon yang akan digunakan untuk merehabilitasi lahan rawa terdegradasi. Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik pada lahan rawa yang selalu tergenang atau tergenang berkala.

Kedua, pertumbuhan yang relatif cepat. Jelutung mempunyai pertumbuhan yang relatif cepat, pada kondisi alami riap diameter pohon berkisar antara 1,5 – 2,0 cm per tahun (Bastoni dan Riyanto, 1999). Pohon jelutung yang dibudidayakan dengan pemeliharaan semi insentif riap diameternya dapat mencapai 2,0 – 2,5 cm per tahun (Bastoni, 2001).

Ketiga, dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal. Jelutung dapat dikembangkan untuk hutan rakyat di lahan rawa dengan gangguan terhadap lahan yang sangat minimal. Hal ini dimungkinkan sebab penanaman jelutung di lahan rawa dapat dilakukan tanpa pembuatan kanal untuk sistem drainase. Pembuatan kanal merupakan bentuk gangguan berat pada lahan yang berdampak negatif, seperti: terjadinya perubahan status hidrologi dari kondisi tergenang menjadi tidak tergenang, terjadinya penurunan tebal lapisan (subsidence) dan menyebabkan sifat kering tak balik. Kondisi tersebut menyebabkan lahan rawa menjadi sangat rawan kebakaran pada musim kemarau.

Keempat, hasil ganda (getah dan kayu). Pengembangan jelutung mempunyai prospek yang baik karena kedua jenis produk pohon jelutung (getah dan kayu) memiliki banyak manfaat. Kayu jelutung berwarna putih kekuningan, bertekstur halus, arah serat lurus dengan permukaan kayu yang licin mengkilap. Sifat kayu jelutung tersebut sangat baik digunakan sebagai bahan baku industri mebel, plywood, moulding, pulp, patung dan pencil slate. Getah jelutung dapat digunakan sebagai bahan baku permen karet, isolator dan soft compound ban. Pasar kayu jelutung di dalam negeri relatif baik, hal ini disebabkan oleh kebutuhan bahan baku industri pencil slate yang mencapai 180.670 m3 per tahun (Bastoni dan Lukman, 2004).

Kelima, masukan (input) biaya budidaya relatif rendah. Bastoni dan Karyaatmadja (2003) menyatakan bahwa dalam jangka waktu tiga tahun biaya yang dikeluarkan pada pembangunan hutan tanaman jenis jelutung untuk bibit, penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan sekitar Rp2,88 juta per ha lahan.

Keenam, masyarakat telah mengenal jelutung. Jelutung dapat dibudidayakan seperti tanaman karet, yaitu pada masa produktif disadap getahnya dan pada saat produktivitas getahnya menurun dapat dimanfaatkan kayunya. Pola budidaya jelutung mirip dengan karet, yaitu hasil getah mulai umur 8-10 tahun sampai sepanjang daur dan hasil kayu pada akhir daur. Kemiripan budidaya jelutung dengan karet menjadikan masyarakat tidak mengalami kesulitan untuk membudidayakannya.

Strategi Pengembangan Hutan Rakyat Jenis Jelutung Rawa

Pembangunan hutan rakyat jenis jelutung rawa di Provinsi Kalimantan Selatan diprioritaskan pada lahan rawa yang telah dikonversi tetapi kurang sesuai untuk tanaman pertanian dan perkebunan. Pembangunannya dapat dilakukan dengan menggunakan teknik wanatani (agroforestry), wanamina (silvofishery), wanaternak (silvopasture), agrosilvopasture atau agrosilvofishery tergantung dari sumberdaya dominan yang terdapat di lokasi pengembangan. Penerapan teknik agroforestry pada pembangunan hutan rakyat jenis jelutung rawa dimaksudkan untuk diversifikasi komoditi, usaha dan pendapatan sehingga akan dapat meningkatkan minat petani untuk membudidayakan jelutung yang berjangka panjang.

Pengembangan hutan rakyat jenis jelutung rawa untuk merehabilitasi lahan rawa terdegradasi di Provinsi Kalimantan Selatan memerlukan adanya dukungan teknologi dan kelembagaan. Teknologi yang perlu dikembangkan untuk mendukung keberhasilan pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa adalah sebagai berikut.

Pertama, teknik silvikultur jelutung. Rangkaian kegiatan silvikultur jelutung mulai dari pembibitan, penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan memerlukan adanya teknologi yang tepat. Oleh karena itu, pengembangan hutan rakyat jenis jelutung perlu melibatkan institusi litbang dan perguruan tinggi. Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru sebagai salah satu UPT Badan Litbang Departemen Kehutanan telah melakukan berbagai penelitian silvikultur jelutung yang hasilnya diharapkan dapat digunakan untuk mendukung pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa Provinsi Kalimantan Selatan.

Kedua, teknologi penanganan benih dan perbanyakan. Pembibitan jelutung secara massal terkendala oleh sifat benih yang mudah rusak dan cepat berkecambah (recalcitran) sehingga tidak dapat disimpan terlalu lama. Teknologi penyimpanan benih dan perbanyakan vegetatif baik secara makro (stek) maupun mikro (kultur jaringan) sangat diperlukan guna penyediaan bibit jelutung dalam jumlah yang banyak.

Ketiga, teknologi pengendalian kebakaran. Lahan rawa sangat rawan kebakaran terutama pada musim kemarau. Teknologi dan kelembagaan pengendalian kebakaran lahan rawa yang efektif mutlak diperlukan. Banyak kasus kegagalan pembangunan hutan tanaman terjadi karena bencana kebakaran, seperti kebakaran yang terjadi di PT. Dyera Hutan Lestari Jambi telah menghancurkan areal tanaman jelutung yang tadinya seluas 2.300 ha menjadi tinggal 200 ha (Bastoni dan Lukman, 2004).

Keempat, teknologi penyadapan getah jelutung. Teknik penyadapan getah jelutung yang memperhatikan kelestarian sangat penting untuk dikembangkan. Penyadapan getah jelutung yang terbaik dilakukan pada pohon dengan diameter lebih dari 25 cm, periode sadap 2 hari dengan sudut bidang sadap 450. Penyadapan dengan cara tersebut memberikan hasil getah rata-rata 1,37 ton/ha/tahun. Penurunan riap diameter pohon jelutung akibat penyadapan rata-rata sebesar 0,34 cm/tahun (Bastoni dan Lukman, 2004).

Pelaksanaan pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa memerlukan dukungan kelembagaan. Kelembagaan dapat mempunyai dua arti, yaitu suatu perangkat peraturan dan organisasi yang membuat/mengawasi pelaksanaan peraturan-peraturan tersebut (Departemen Kehutanan, 1997). Contoh kelembagaan adalah kredit, penyuluhan, koperasi, penelitian dan pengembangan serta tataguna lahan. Kelembagaan-kelembagaan yang perlu mendapat perhatian khusus dalam pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa antara lain koordinasi antar lembaga, masalah pendanaan dan infrastruktur, masalah kelembagaan pada tingkat lokal dan distribusi keuntungan. Selain itu, perlu ditetapkan kelompok tani yang dibentuk oleh masyarakat sendiri, secara permanen berikut dengan wilayah kerjanya. Hal ini dapat mempermudah petugas lapangan kehutanan untuk melakukan berbagai pendekatan berupa penyuluhan, bantuan/advis teknologi, dan lain-lain.

Peranan kelembagaan pada pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa adalah: (a) meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyampaian informasi dalam proses penyuluhan, (b) memperkuat posisi petani, (c) meningkatkan kemampuan kinerja petani pada pembuatan perencanaan dan proses pelaksanaan pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa, (d) memperjelas satuan dan ukuran kawasan manajerial pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa Provinsi Kalimantan Selatan.

Penutup

Pengembangan hutan rakyat jenis jelutung untuk memproduktifkan lahan rawa terlantar di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilakukan dengan mengembangkan pola kemitraan. Pembangunan hutan rakyat jenis jelutung dengan pola kemitraan dapat diinisiasi dan dikembangkan oleh suatu badan usaha kehutanan. Masyarakat pemilik lahan hanya menyediakan areal untuk pembangunan hutan rakyat jenis jelutung. Para pengusaha menyiapkan pendanaan, teknologi budidaya dan infrastruktur pemasaran hasilnya. Skema umum dari bentuk kemitraan pembangunan hutan rakyat jenis jelutung pada areal milik ini adalah sebuah benefit-cost sharing antara pemilik lahan dengan perusahaan yang disepakati bersama dalam suatu dokumen perjanjian.***

di ambil dari website radar banjarmasin www.radarbanjarmasin.com

*) Peneliti Pada Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru

E-mail: marinuskh@yahoo.co.id

13 Juli 2008

PENELITIAN BURUNG DI FLORES (GRATIS)

Burung Indonesia adalah organisasi nirlaba yang telah bergiat sejak 15 Juli 2002, bertujuan melestarikan seluruh jenis burung dan habitatnya di Indonesia, serta bekerjasama dengan masyarakat untuk mencapai pembangunan yang lestari.

Latar Belakang
Kawasan hutan Mbeliling terletak di bagian barat pulau Flores merupakan salah satu ekosistem hutan penting yang masih tersisa di pulau ini. Dua tipe habitat utama yang terdapat di dalam kawasan ini yaitu hutan tropika basah semi-awet hijau dan hutan tropika basah luruh-daun, telah mendapatkan status tertinggi bagi konservasi keanekaragaman hayati di wilayah tropika (WCMC 1997). Kawasan ini merupakan habitat bagi tiga dari empat burung endemik Flores yaitu Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum), Serindit Flores (Loriculus flosculus), dan Gagak Flores (Corvus florensis). Sebanyak 17 jenis burung sebaran terbatas juga menghuni kawasan hutan (Trainor dan Lesmana 2000).

Kawasan hutan ini juga berfungsi sebagai daerah resapan air bagi daerah Manggarai Barat. Masyarakat di sekitar hutan Mbeliling juga menggantungkan hidupnya pada kawasan ini untuk mengairi lahan pertanian serta menjamin tersedianya air bersih. Selain itu masyarakat juga memanfaatkan tumbuhan di kawasan ini sebagai bahan makanan, bahan bangunan, serta obat-obatan tradisional. Mengumpulkan hasil hutan bukan kayu adalah kegiatan ekonomi yang penting bagi masyarakat sekitar kawasan Mbeliling.

Burung Indonesia bekerjasama dengan Dansk Ornitologisk Forening (DOF) dan didukung oleh DANIDA, tengah melaksanakan sebuah program di kawasan Mbeliling yang bertujuan untuk membangun pengelolaan hutan secara partisipatif yang dapat meningkatkan sumber kehidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah membangun sebuah sistem Pemantauan Lingkungan secara Sederhana (PLS; Low Key Monitoring), dengan tujuan untuk merancang sebuah sistem pemantauan yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat setempat dan pemerintah terkait, yang akan dapat memantau perubahan yang terjadi di kawasan hutan sekitar. Hasil pemantauan keanekaragaman hayati ini juga menjadi masukan bagi praktek pengelolaan kawasan Mbeliling.

Sehubungan dengan dimulainya pengembangan sistem PLS ini, Burung Indonesia memberi kesempatan bagi mahasiswa Indonesia baik untuk jenjang strata sarjana maupun pasca sarjana untuk melakukan penelitian mengenai aspek-aspek tertentu dalam sistemPLS. Apabila dimungkinkan akan dilakukan kolaborasi antara mahasiswa Indonesia dan Denmark, oleh karena itu diperlukan kemauan kerjasama antara kedua pihak mahasiswa.

Tujuan utama
Melakukan studi lapangan yang mendukung dan meningkatkan kegunaan sistem PLS bagi kawasan Mbeliling, yang nantinya akan menghasilkan pengaruh positif terhadap kualitas hutan dan juga kualitas hidup masyarakat sekitar hutan Mbeliling.
Penelitian ini dapat menelaah bagaimanakah desain teknis terbaik sistem pemantauan dalam hal aspek yang dapat memberikan hasil maksimal dan efektif dari sisi pendanaan: apa yg harus dipantau, kapan dan bagaimana?. Penelitian ini juga dapat mencoba untuk menjawab pertanyaan seperti: Bagaimanakah kita dapat memastikan komitmen total untuk melaksanakan pemantauan dari kedua pihak yaitu masyarakat lokal serta pemerintah terkait (Dinas Kehutanan)?, ataupun pertanyaan: Apakah manfaat yang diterima masyarakat lokal dari sistem pemantauan ini?. Seluruh proposal yang masuk diharapkan memiliki keterkaitan dengan tujuan utama.

Tugas peneliti
1. Melakukan studi, termasuk kajian lapangan, di dalam dan sekitar kawasan hutan Mbeliling dengan pengawasan terbatas, tetapi tetap berkorespondensi dengan staff Burung Indonesia dan DOF.
2. Merancang aspek logistik dan keuangan dengan staf Burung Indonesia di Bogor.
3. Menyusun sebuah catatan detil pengeluaran biaya yang didukung oleh bukti-bukti, dan menyampaikan dokumen pengeluaran biaya akhir kepada staf Burung Indonesia.
4. Menyusun laporan akhir studi termasuk presentasi metodologi, data empiris yang didapatkan di lokasi kajian, analisis data, kesimpulan dan/atau rekomendasi yang keduanya terkait dengan sistem PLS dan tujuan utama diatas.

Waktu penelitian
Akan ditentukan setelah diskusi antara mahasiswa terpilih dengan tim Burung Indonesia proyek Mbeliling.

Persyaratan
1. Mahasiswa/i jenjang sarjana/pasca sarjana dari fakultas/jurusan/program studi Biologi, Lingkungan, Kehutanan, Pertanian, Sosiologi, Antropologi
2. Bersedia melakukan studi lapangan di kawasan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur
3. Mampu berbahasa Inggris dengan baik secara lisan dan tulisan
4. Mampu bekerja mandiri

Fasilitas
Bagi mahasiswa yang terpilih, Burung Indonesia akan menyediakan:
1. Transportasi Bogor – Labuan Bajo pp
2. Biaya hidup lokal di Mbeliling untuk melaksanakan studi: transportasi, akomodasi, konsumsi
3. Ruang dan fasilitas kerja selama melakukan studi di Mbeliling

Bagi mahasiswa yang tertarik dapat mengajukan diri ke Burung Indonesia. Lamaran harus diterima paling lambat 31 Juli 2008.

Lamaran terdiri dari:
1. Surat pengajuan
2. Surat referensi dari pembimbing
3. Salinan kartu mahasiswa
4. Salinan kartu tanda penduduk
5. Narasi konsep penelitian yang akan dilakukan

Lamaran dapat dikirimkan melalui:
Email: m.prasetyaningrum@burung.org (Maya D. Prasetyaningrum)
Atau PO Box.310/BOO, Bogor 16001


Maya D. Prasetyaningrum
Conservation Programme Administration
Burung Indonesia
Jl. Dadali No. 32, Bogor 16161
PO Box 310/Boo, Bogor 16003
P : 62 - 251 357 222
F : 62 - 251 357 961
E : m.prasetyaningrum@burung.org

02 Juli 2008

penemu mikrohidro

Tri MumpuniDia menerangi desa dalam arti sebenarnya. Bersama suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji, Tri Mumpuni Wiyatno membangun pembangkit listrik mini bertenaga air. Sudah 60 lokasi mereka terangi dengan listrik.

Listrik bukan tujuan utama kami, melainkan membangun potensi desa supaya mereka berdaya secara ekonomi,” kata Tri Mumpuni atau biasa dipanggil Puni dalam percakapan pekan lalu di Jakarta.

Karena itu, meskipun telah melistriki banyak tempat, Puni yang menjadi Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka), lembaga swadaya yang dia dirikan bersama Iskandar pada 17 Agustus 1992, terus mengembangkan end use productivity, yaitu bagaimana masyarakat desa setelah memiliki listrik menggunakan listrik itu untuk kegiatan produktif sesuai potensi desa.

Dalam konteks krisis lingkungan Bumi saat ini, dengan pemanasan global yang menimbulkan berbagai perubahan iklim dan cuaca, apa yang dilakukan Puni dan Iskandar menjadi bermakna.

“Agar pembangkit listrik tenaga air itu mampu berfungsi terus-menerus sepanjang tahun, setidaknya daerah tangkapan air di hulu harus dipertahankan seluas 30 kilometer persegi. Artinya, tidak ada penebangan hutan atau penggundulan vegetasi,” kata Puni.

Pembangkit listrik mikrohidro juga ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar fosil. Artinya, tidak menambah jumlah gas karbon dioksida ke atmosfer yang memperburuk efek rumah kaca penyebab naiknya suhu muka Bumi secara global.

Pembangkit mikrohidro Ibeka tidak ada yang menggunakan dana pemerintah?

Kami memang tidak pernah menggunakan dana Anggaran Pendapat dan Belanja Negara (APBN) karena sistem APBN tidak mengakomodasi proses pemberdayaan masyarakat. Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 80 Tahun 2003 mengharuskan adanya tender. Tidak mungkin rakyat kecil mengakses.

Selama ini kami menggunakan dana donor melalui kedutaan dan ada dari perusahaan dalam skema tanggung jawab sosial perusahaan.

Apa yang menarik Anda membangun listrik mikrohidro?

Mas Iskandar sudah mulai sejak tahun 1987 melalui lembaga yang dia dirikan bersama teman-temannya, Yayasan Mandiri, tetapi berjalan sangat lambat.

Saya melihat orang desa punya potensi berkembang, tetapi perlu alat. Nah, listrik itu alatnya. Jadi, listrik itu hanya alat, bukan pembangunan itu sendiri.

Suatu ketika Mas Iskandar minta tolong saya mempresentasikan proposal dana listrik mikrohidro. Saya langsung tertarik dan meninggalkan pekerjaan sebelumnya dalam program rumah untuk orang miskin di perkotaan, perempuan, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan. Listrik di pedesaan ini mencakup semua hal itu. Begitu masyarakat punya listrik sendiri, mereka akan punya uang bersama untuk membiayai pendidikan, program kesehatan, program perempuan, infrastruktur seperti jalan, sampai radio komunitas.

Dari jumlah 60 lokasi yang dibangun Ibeka, berhasil semua?

Ada empat atau lima tempat yang tidak jalan lagi dengan macam-macam alasan. Di Padasuka, Cianjur, pohon di daerah tangkapan airnya ditebangi karena katanya untuk lapangan golf. Ternyata tidak jadi dan sekarang ditumbuhi ilalang. Ada yang turbinnya dijual kepala desanya sebagai besi tua, ada yang lalu listrik PLN masuk ke tempat itu.

Membangun komunitas

mikrohuydroKarena memegang prinsip listrik hanya alat untuk membangunkan potensi masyarakat desa, cara kerja Puni dan Iskandar adalah membangun komunitas, mengajak mereka menyadari pembangkit listrik itu milik mereka dan mereka harus memelihara bukan hanya turbinnya, tetapi juga keajekan aliran air sepanjang tahun.

“Awalnya, kami yang memang senang jalan-jalan ke desa melihat ada sungai yang alirannya bagus dan belum ada kabel listrik PLN lalu kami temui kepala desanya.”

“Kami tidak berani memberi harapan. Biasanya Mas Iskandar akan bilang, kebetulan dia diberi pengetahuan lebih untuk mengadakan listrik. Ibu ini—maksudnya saya—yang akan mencarikan uangnya,” kenang Puni. “Setelah itu saya akan cari uang ke mana-mana.”

Desa-desa yang mereka bantu biasanya terpencil. Salah satunya Dusun Palanggaran dan Cicemet, enklave di Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat, yang mereka terangi dengan listrik tahun 1997. Untuk mencapai tempat itu harus berjalan kaki sembilan jam atau naik motor yang rodanya diberi rantai sebab jalan setapaknya licin. “Uang dari listrik dipakai membangun jalan berbatu yang bisa dilalui kendaraan four wheel drive. Ini membuka peluang membantu 10 dusun lain,” kata Puni.

Sebelum membangun pembangkit listrik, Ibeka selalu mengumpulkan data untuk melihat kemungkinannya secara teknis. Iskandar lalu membuat rencana teknik dan menghitung rencana anggaran biaya. Setelah itu tugas Puni “berjualan”. “Yang banyak membantu kedutaan Jepang,” kata Puni.

Setelah dana ada, Ibeka lalu mengirim tim sosial yang biasanya tinggal mulai dua minggu sampai satu bulan di desa. Di sini proses membangun komunitas dimulai, saat masyarakat diajak berdialog.

“Kami akan mencari orang-orang berpengaruh di desa itu lalu membuat pertemuan dengan masyarakat di gereja bila komunitasnya Kristiani, di masjid kalau komunitasnya Muslim, atau di rumah adat seperti di Kalimantan,” kata Puni.

Masyarakat diminta membuat organisasi yang akan mengurus turbin, menentukan siapa ketua, bendahara, sekretaris, sampai orang yang bisa bongkar-pasang mesin sebagai operator. Mereka juga diajak menghitung biaya yang harus dibayar pelanggan sebagai dana abadi dan dana untuk memelihara pembangkit listrik itu. “Ternyata orang desa nyambung diajak bicara hal-hal seperti itu,” kata Puni.

Ketika kemudian tim teknis tiba, mereka sudah tahu siapa operator turbin. Dia akan diajak ikut memasang turbin karena Ibeka selalu mengajak masyarakat bergotong royong membangun.

Kekecualian terjadi di Desa Krueng Kala, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Menurut Puni, masyarakat di sana sama sekali tidak membantu karena mereka lelah setelah konflik berkepanjangan dan kemudian disapu tsunami pada 24 Desember 2004.

“Di sana tersisa hanya satu desa dengan 215 keluarga,” kata Puni. Lembaga swadaya internasional juga bertanggung jawab dengan membuat proyek Cash for Work. “Orang dibayar Rp 50.000-100.000 sehari untuk mengangkut batu dan membersihkan sampah di rumah mereka sendiri.”

Ketika enam bulan Puni kembali ke sana, hal tak disangka terjadi. “Kas desa terisi Rp 23 juta. Lalu ada aturan baru desa yang melarang menebang pohon apa pun dalam jarak 50 meter di kiri dan kanan sungai. Mereka menanam pohon buah-buahan supaya bisa dapat hasil dari buah itu. Padahal, sebelumnya sulit sekali menentukan uang langganan karena mereka merasa tidak punya uang.”

Sama-sama untung

Dalam sistem yang dibangun Ibeka, menurut Puni, bukan hanya masyarakat desa yang untung. PLN dan pemerintah juga untung.

Desa yang belum ada aliran listrik PLN (off grid) mendapat pemasukan dari uang langganan yang dibayar penduduk.

Di desa yang ada jaringan PLN, Ibeka menggunakan skema on grid yang menguntungkan dua pihak. “Kalau tidak salah ingat, pada 26 Desember 1999 ketika Pak Susilo Bambang Yudhoyono menjabat Menteri Pertambangan dan Energi saya menjelaskan agar sistem ini diterapkan di Indonesia,” kata Puni.

Rakyat tidak perlu terpinggirkan dalam pembangunan, bahkan punya dana abadi karena listrik yang menjadi aset desa dijual kepada PLN. “Ini bukan hanya capacity building, tetapi equity building karena kepemilikan rakyat sangat dihormati,” kata Puni.

PLN tidak perlu investasi. “Karena yang investasi rakyat dengan bantuan donor,” tambah Puni. “Sebenarnya pemerintah juga bisa investasi, tetapi saya tidak mengerti mengapa sampai sekarang tidak dilakukan.”

PLN menerima listrik bersih karena sumber energinya air, bukan bahan bakar fosil. Dari sisi teknis, di ujung-ujung jalur distribusi kualitas listrik PLN tetap terpelihara bila di ujung-ujung itu listrik PLN disuntik listrik rakyat.

Keuntungan untuk pemerintah, harga listrik mikrohidro lebih murah, Rp 425 dan Rp 432 per kWh. “Setahu saya listrik dari swasta dijual 6-7 sen dollar AS sebelum negosiasi,” kata Puni.

“Bila pemerintah sepakat membangun 500 megawatt listrik dari tenaga mikrohidro, lalu rata-rata satu pembangkit menghasilkan 100 kWh, berarti ada 5.000 pembangkit. Bila semua dijual ke PLN, ada pemasukan uang ke desa sebesar Rp 1,29 triliun per tahun. Bayangkan ekonomi desa yang akan tumbuh karena itu.”

Bila pembangkit itu dioperasikan masyarakat, berarti ada 5.000-an usaha kecil di desa yang menyerap 39.000 tenaga kerja bila tiap pembangkit dioperasikan tiga-enam orang. Orang desa pun akan bertahan di kampungnya karena ada kegiatan ekonomi di sana.

“Penghematan bahan bakar mendekati satu miliar liter setahun atau senilai kira-kira Rp 4,3 triliun, sementara biaya yang dibayarkan PLN kepada orang desa hanya Rp 1,29 triliun,” ujar Puni.

Keuntungan lain berhubungan dengan konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menurunkan emisi gas rumah kaca, yaitu Protokol Kyoto. “Karena sumber energinya bersih, maka Clean Development Mechanism pembangkit mikrohidro dapat menjual Certified Emission Reduction kepada negara maju. Nilai untuk 5.000 pembangkit listrik tadi adalah 6 juta dollar AS per tahun. Dana ini dapat dipakai untuk membangun lebih banyak desa.”

Lalu, kenapa pemerintah tidak melaksanakan skema ini?

Saya melihat penyebabnya, sistem anggaran yang mengharuskan adanya kontraktor yang membuat tidak terbangunnya komunitas. Akibatnya, hasilnya tidak langgeng. Sistem ini dijalani karena takut ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sedangkan tanpa KPK birokrasi kita sudah terkenal amburadul. Seperi lingkaran setan.

Solusinya?

Memperkuat masyarakat desa. Kami membantu orang desa mendirikan koperasi yang berbadan hukum sehingga bisa membuka rekening bank. Dana untuk membangun pembangkit ditransfer langsung ke rekening itu. Cara ini yang saya minta dikopi pemerintah.

Warna Kehidupan

Hidup Ini Mengalir Saja

Tri Mumpuni, anak ketiga dari delapan bersaudara ini, menyebut hidupnya mengalir saja. Sejak kecil, ketika tinggal di Semarang, Jawa Tengah, dia terbiasa melihat dan membantu ibunya yang aktif dalam kegiatan sosial. “Rumah kami jadi tempat posyandu, Ibu mengajar Kejar Paket A dan B. Jadi, saya biasa ikut menimbang anak-anak balita,” tutur Puni, panggilannya.

Bagi Puni, keluarga adalah sekolah yang tidak pernah berhenti. “Saya belajar dari Bapak dan Ibu saya,” tutur anak pasangan Wiyatno (almarhum) yang bekerja di BUMN dan Gemiarsih ini.

Ayahnya mengajari dia untuk berbagi, sementara ibunya mengajari memberi. Berbagi, kata Puni, artinya membagi berapa pun yang dipunyai untuk orang lain yang membutuhkan, pada saat yang tepat. Tak mengherankan rumah keluarga ini selalu ramai oleh saudara atau orang-orang dari desa yang tinggal bersama mereka dan disekolahkan orangtua Puni dan mereka yang tinggal bersama dianggap sebagai saudara.

Sedini usia kelas IV SD Puni sudah rajin ikut ibunya keliling ke kampung-kampung mengobati orang yang kena penyakit koreng. “Lucunya, setelah dewasa saudara-saudara bilang, hanya saya yang paling sering membantu Ibu,” kenang Puni tentang kegiatan ibunya yang lulusan Sekolah Kepandaian Putri.

“Pengalaman-pengalaman itu memperlihatkan kepada saya, dari proses hubungan manusia itu uang bukan segala-galanya,” tambah Puni.

Dia tidak patah semangat ketika cita-citanya masuk Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro tak terwujud. Prof Dr Andi Hakim Nasoetion-lah yang menelegram orangtua Puni agar anaknya segera ikut kuliah bersama mahasiswa tingkat satu di Institut Pertanian Bogor. “Telegram dari Pak Andi sampai dialbumkan Ayah,” kenang Puni. Andi Hakim, juri lomba karya ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), rupanya terus mengikuti kabar para finalis lomba yang tahun 1982 dimenangi Puni.

Suaminya, Ir Iskandar Kuntoadji, adalah sarjana geologi dari Institut Teknologi Bandung, dan belajar pembangkit mokrohidro di Swiss. Dari Iskandar, Puni banyak belajar mengenai kesederhanaan dan kejujuran.

“Sebagai perempuan, wajar kalau saya tertarik pada mode, sepatu dan tas. Biar sudah punya, kadang-kadang ingin beli lagi. Apalagi kalau modelnya bagus sekali, atau ketika sedang di luar negeri. Mas Iskandar hanya bilang, apa saya benar-benar membutuhkan itu.

“Kompromi saya, saya kadang menuruti dia, kadang saya beli juga tetapi saya berikan kepada orang. Jadi, ego saya terpenuhi, tetapi bukan untuk saya. Saya merasa situasi itu win-win.”

Iskandar juga mengajari bahwa rezeki itu cukup satu gelas. Kalau sudah lebih, berikan pada orang lain. “Itu mengajarkan untuk menahan diri dari keserakahan. Lingkungan kita rusak karena ego untuk terus mengonsumi, terus menumpuk.”

Dia menyebut hidupnya sangat berwarna. Suatu kali dia bersama suami dan anak tertuanya, Ayu yang ebrsekolah di Kanada, berada di dusun di hutan Ketambe, Gunung Leuser, Aceh Timur, yang gelap gulita tak ada listrik. Tetapi, kali lain dia ada di New York atas undangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, di Dubrovnik di Kroasia, atau Beijing di China.

“Ayu bilang, betapa tidak adilnya ketika 47 persen orang Indonesia belum dapat listrik. Kami katakan, yang lebih tidak adil lagi adalah uang untuk melistriki mereka dikorup. Ini kriminal.” (NMP/MH)

Tri Mumpuni Wiyatno

Nama:Tri Mumpuni

Tempat dan tanggal lahir: Semarang, 6 Agustus 1964

Keluarga: Suami: Ir Iskandar Budisaroso Kuntoadji. Anak: Ayu Larasati (21), mahasiswi industrial design di Toronto University, Kanada, dan Asri Saraswati (19), mahasiswi bioprocess chemical engineering di University of Technology Malaysia.

Pendidikan: Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor; Energy and Sustainable Development International Session, Universidad da Costa Rica, 1992; Trade and Sustainable Development Course, Chiang Mai University, Thailand, 1993; Leadership for Environment and Development Course, 1993-1995, LEAD based in New York funded by Rockefeller Foundation; Lead Fellows (Cohort 2).

Penghargaan: Climate Hero 2005 dari World Wildlife Fund for Nature.

Pekerjaan: Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan, Subang.

(Ninuk Mardiana Pambudy & Maria Hartiningsih)

Sumber: Kompas, 15 Juli 2007

KARANG DAN TERUMBU KARANG


Di dalam pembicaraan sehari-hari karang biasa diartikan sebagai batu yang keras (rock). Di dalam istilah Biologi Laut, karang diartikan sebagai hewan invertebrata (Cnidaria, Anthozoa) yang biasanya hidup sesil di dasar laut dangkal, yang dalam istilah Inggris disebut coral. Karang tersebut hidup menempel di dasar laut dan mampu menghasilkan zat kapur sebagai kerangka tubuhnya. Sedangkan definisi umum dari terumbu karang (coral reef) adalah struktur fisik di dalam laut yang berasal dari proses biogenic. Struktur fisik tersebut berupa batuan kapur yang merupakan hasil dari proses biogenic, yaitu kalsifikasi organisme penghasil kapur, misalnya karang, mollusca, foraminifera dan alga berkapur. Struktur berkapur di dalam laut tersebut berupa bukit kapur atau terumbu (reef) dan kerangka karang (yang hidup dan mati0 yang melekat di terumbu tersebut. Contoh dari karang adalah Acropora, Montipora, Montastrea dan sebagainya. Contoh dari terumbu karang adalah terumbu tepi (fringing reef), terumbu penghalang (barrier reef),patch reef). atoll dan taket (

Di dalam Biologi terumbu karang mempunyai arti sebagai suatu ekosistem yang didominasi oleh hewan sesil karang. Sedangkan hewan-hewan lain yang hidup di dalam atau di sekitar karang disebut hewan terumbu karang (coral reef animal), misalnya cacing polychaeta, echinodermata dan ikan. Sesuai dengan namanya, ekosistem terumbu karang mempunyai komponen utama terumbu (reef) dan karang batu (coral). Terumbu (reef) merupakan struktur berkapur yang terdapat di perairan laut dangkal. Di substrat terumbulah karang batu hidup bersama-sama dengan ribuan jenis biota laut lainnya. Kadang-kadang ada penulis menyingkat sebutan coral reef menjadi hanya reef saja, tetapi tidak ada yang memperpendek sebutan dengan coral saja. Kejadian tersebut sering membingungkan orang yang baru memahami istilah terumbu karang.

Di dalam ekosistem terumbu karang, karang merupakan komponen yang utama sehingga baik buruknya kondisi suatu terumbu karang ditentukan oleh banyak sedikitnya kelimpahan karang. Jika dianalogkan dengan ekosistem hutan, karang berperan sebagai pohon-pohon yang tumbuh dibukit terumbu. Disamping sebagai tempat tinggal, tempat makan dan berlindung dari banyak hewan lain, karang juga berfungsi sebagai pencegah terjadinya erosi. Jika pohon menahan erosi dengan banyak menyerap air dan memperkuat ketahanan tanaah, maka karang meencegah erosi dengan banyak menimbun sedimen kapur yang melekat di terumbu.

KARANG LUNAK VS KARANG BATU

Di dalam banyak publikasi tentang terumbu karang sering digunakan juga beberapa istilah teknis lainnya, yaitu : karang batu dan karang lunak, karang hematipik dan karang ahermatipik. Karang batu dan karang lunak merupakan kelompok hewan yang berbeda dalam subklas. Karang batu termasuk dalam subklas Zoanthatiria, sedangkan karang lunak dalam subklas Octocoralia. Secara fisik antara karang batu dan karang lunak mudah dibedakan di dalam air. Karang batu keras karena mempunyai kerangka berkapur, sedangkan karang lunak tidak mempunyai kerangka sehingga tubuhnya bergerak-gerak oleh arus dan gelombang air. Istilah karang (coral) hanya digunakan sebagai kependekan karang batu, tidak digunakan untuk kependekan karang lunak.

Dalam kelompok karang batu, orang membedakan karang batu yang hermatipik dan yang ahermatipik. Karang hermatipik didefinisikan sebagai karang yang mengandung alga zooxanthellae dalam jaringan tubuhnya. Karang ahermatipik merupakan kelompok karang yang tidak mengandung algae zooxanthellae. Adanya alga zooxanthellae membuat karang batu mendapatkan energi ekstra dari sumbangan algae sehingga umumnya tumbuh lebih cepat.

Sebagai suatu hewan karang sangatlah istimewa. Banyak karakteristik karang yang tidak banyak dimiliki oleh hewan lain pada umumnya. Sebagian besar karang adalah hewan sesil yang tumbuh di substrat berkapur yang keras, yaitu terumbu. Mirip dengan layaknya tanaman yang tumbuh di suatu bukit. Karang mengandalkan fotosintesis dari algae di dalam jaringannya untuk tumbuh, sehingga karang selalu membutuhkan cahaya matahari yang terang sebagaimana tumbuhan. Di dalam proses reproduksi dan penyebaran larvanya, karang juga lebih mirip tumbuhan daripada hewan.

sumber: milis coremap

membuat pupuk cair organik dari peternakan cacing sendiri

Di jaman yang serba sulit ini, kita harus lebih jeli melihat peluang yang ada di depan mata. Pekerjaan yang "agak kotor" sedikit (atau dirty job dalam bahasa inggris) bukan lagi halangan untuk menggarapnya menjadi ladang usaha yang menjanjikan. Sebenarnya jenis pekerjaan yang dimaksud cukup banyak. Namun, dalam kesempatan ini yang berkesempatan untuk dikupas lebih dalam adalah seputar beternak cacing tanah (Lubricus rubellus).

Hasil yang Dapat Diharapkan
Dalam melakukan usaha ternak cacing ini, setidaknya ada tiga hal yang dapat diharapkan sebagai hasil kerjanya, yaitu:

  • Cacing itu sendiri, yang saat ini cukup banyak sekali pemanfaatannya, seperti untuk obat, kosmetik, serta bibit untuk produksi cacing selanjutnya.
  • Tanah bekas tempat hidup cacing yang dapat digunakan sebagai media tanam yang sangat subur.
  • Pupuk cair yang merupakan cairan pembuangan cacing yang sangat bermanfaat untuk kesuburan tanaman.
Semua hasil produksi tersebut dapat Anda jual maupun gunakan untuk kepentingan sendiri sebagai penunjang kegiatan produksi selanjutnya.

Peralatan dan Perlengkapan yang Dibutuhkan


















Langkah pemeliharaan cacing
Untuk menunjang kegiatan produksi cacing tanah, dibutuhkan beberapa perlengakan dan peralatan yang mudah diperoleh pada lingkungan sekitar kita dan banyak dijual di toko peralatan pada umumnya. Peralatan dan perlengkapan itu antara lain :
  • Kotak untuk memelihara cacing, dapat memakai papan kayu atau bahan dari plastik maupun dari kaca. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah kotak sehingga dapat menampung ‘pupuk cair’ yang keluar.
  • Kompos sebagai media hidup cacing yang akan dibudidayakan.
  • Sampah sisa makanan atau sampah organik lainnya.
  • Ember dengan penutup.
  • Penutup kotak cacing yang dapat dibuat dari kayu dan kawat jaring.
  • Minyak atau oli untuk menghalau serangga yang tidak diinginkan, misalnya: semut, kecoa, dll.
  • Sarung tangan karet.
  • Bibit cacing tanah.
  • Lokasi yang terlindung dari hujan dan sinar matahari yang berlebihan.


Setelah peralatan dan perlengkapan sudah disiapkan, proses untuk melakukan pembudidayaan dapar dimulai.

Langkah-langkah untuk Pembudidayaan

Ada lima tahapan utama untuk membudidayakan cacing tanah, yaitu :
- Masukkan kompos setinggi 15 cm ke dalam kotak pemeliharaan secara merata.
- Potong kecil-kecil sisa-sisa makanan atau sampah organik untuk kemudian dimasukkan ke
dalam kotak pemeliharaan.
- Tambahkan sedikit air ke dalam media hingga cukup basah dan gembur.
- Aduk semuanya hingga tercampur merata. Anda dapat menggunakan sarung tangan yang telah disiapkan jika merasa jijik.
- Perlahan masukkan bibit cacing tanah ke dalam kotak pemeliharaan.

Cara untuk mengetahui apakan cacing merasa nyaman di tempat hidupnya
Anda dapat memperhatikan perilaku cacing-cacing tersebut untuk mengetahui tingkat kenyamanan kotak pemeliharaan. Jika cacing masuk ke dalam media, maka mereka cukup merasa nyaman dengan kotak pemeliharaan. Sebaliknya, jika cacing-cacing tersebut mencoba naik ke pemukaan, itu tandanya kotak pemeliharaan kurang nyaman untuk mereka.
Ketidaknyamanan cacing pada kotak pemeliharaan bias dikarenakan kurangnya kelembaban, kurangnya ventilasi, atau ada zat pencemar yang tidak disukai cacing, seperti zat kimia tertentu dalam media.

Hal-hal Lain yang Perlu Diketahui dalam Budidaya Cacing Tanah
Cacing sangat bagus dalam memanfaatkan sisa makanan untuk diubah menjadi pupuk yang disebut “KASTING” & “Pupuk Cair” yang sangat bermanfaat untuk kebun anda. Tapi ingat: cacing adalah makhluk hidup yang memerlukan perhatian yang cukup dalam pemeliharaannya. Pastikan mereka tidak diberi makanan yang dapat membuat mereka sakit.

Jangan memasukkan benda-benda berikut ini dalam kotak pemeliharaan:
  • Ampas kopi atau teh.
  • Minyak atau yang berminyak.
  • Bahan yang mengeluarkan bau keras.
  • Sabun atau bahan kimia.
  • Tulang atau daging.
  • Buah yang masam (jeruk).
  • Garam atau gula.


Berapa banyakkah cacing makan?
Kurang lebih sama dengan berat cacingnya. 1 kg cacing butuh 1 kg makanan. Beri makan paling tiga hari sekali.

Cara memberi makan cacing

Potong kecil-kecil makanannya (ingatlah bahan-bahan yang dilarang)
Simpan dalam ember tertutup selama 2-3 hari agar terfermentasi
Buatlah lubang pada media dan masukkan makanan dari ember tadi
Tutup lagi dengan media perlahan-lahan (hindari alat yang tajam)
Cara menjaga kelembaban kotak pemeliharaan
Tambahkan kompos dan aduk-aduk, jaga jangan sampai media menjadi padat.
Jika terlihat kering tambahkan makanan yang banyak mengandung air.
Hewan-hewan yang harus dijauhkan dari lokasi pemeliharaan
Tikus
Semut
Ayam
Bebek
Kadal
Katak




Sekian dulu pembahasan mengenai budidaya cacing tanah. Semoga dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi kita.

sumber : www.radmanblog.cn

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template